Oleh: Sri Widi Handayani Soekarno
Ardi
melihat ke kiri dan kanan jalan raya. Dia mencari ojek untuk mengantarkannya
kembali ke mall dekat kantornya.
“Loh,
kok nggak jadi naik bis, Pak?” suara seorang pria menegur Ardi.
Ardi
terhenyak kaget. Di hadapannya sudah ada bapak ojek yang tadi mengantarkannya
ke terminal bis.
“Pak,
kebetulan. Antar saya balik ke mall
tadi, ya. Pesanan istri saya ketinggalan di sana.”
“Naik
aja, Pak. Nanti saya antar lagi ke sini.” Bapak ojek memberikan helm kepada
Ardi.
Ardi
menerima helm itu dan bergegas memakainya sambil menaiki jok belakang. Motor
melaju menuju mall. Tiba di sana,
Ardi meminta bapak ojek menunggu sebentar. Ardi berjalan cepat menuju outlet tempat dia membeli donat. Sesaat
Ardi membuka pintu dan masuk ke dalam outlet,
nampak seorang pria muda berseragam menghampirinya.
“Bapak
mencari ini, ya? Tadi tertinggal di atas meja. Saya mau kejar, Bapak sudah
pergi naik ojek.” Dia menjelaskan sambil menyerahkan sebuah tas plastik berisi
sekotak donat.
Ardi
tersenyum lega. Dia menerima tas plastik itu. “Betul, ini punya saya. Tadi saya
buru-buru mengejar bis. Alhamdulillah, masih rejeki saya. Terima kasih, ya.”
Ardi
pamit dan segera keluar dari mall
menghampiri bapak ojek yang masih menunggu. Mereka kembali ke terminal bis. Ardi
harus menunggu satu jam lagi untuk keberangkatan berikutnya.
Bis
berangkat tepat waktu. Semakin malam, lalu lintas di sekitar terminal bis
semakin padat. Ardi perlahan tertidur dalam buaian dinginnya AC di atas kepala.
Empat puluh lima menit berlalu, Ardi terjaga dari tidurnya.
“Ada
apa, ya, kok bis berhenti?” Ardi bertanya kepada pemuda yang duduk di
sebelahnya.
“Bis
yang sebelumnya kecelakaan, Pak. Sepertinya sopir sedang memberi bantuan.” Pemuda
itu menjelaskan.
“Kecelakaan?”
Ardi bergumam. Mata Ardi menatap plastik berisi donat untuk Keiko, yang masih
dia genggam erat di tangan kiri tepat di pangkuannya. Tangan kanannya bergetar
mengelus plastik itu. “Alhamdulillah.” Ardi berbisik.












