Wednesday, November 1, 2017

Donat untuk Keiko


Oleh: Sri Widi Handayani Soekarno  

            Ardi melihat ke kiri dan kanan jalan raya. Dia mencari ojek untuk mengantarkannya kembali ke mall dekat kantornya.
            “Loh, kok nggak jadi naik bis, Pak?” suara seorang pria menegur Ardi.
        Ardi terhenyak kaget. Di hadapannya sudah ada bapak ojek yang tadi mengantarkannya ke terminal bis.
            “Pak, kebetulan. Antar saya balik ke mall tadi, ya. Pesanan istri saya ketinggalan di sana.”
            “Naik aja, Pak. Nanti saya antar lagi ke sini.” Bapak ojek memberikan helm kepada Ardi.
          Ardi menerima helm itu dan bergegas memakainya sambil menaiki jok belakang. Motor melaju menuju mall. Tiba di sana, Ardi meminta bapak ojek menunggu sebentar. Ardi berjalan cepat menuju outlet tempat dia membeli donat. Sesaat Ardi membuka pintu dan masuk ke dalam outlet, nampak seorang pria muda berseragam menghampirinya.
            “Bapak mencari ini, ya? Tadi tertinggal di atas meja. Saya mau kejar, Bapak sudah pergi naik ojek.” Dia menjelaskan sambil menyerahkan sebuah tas plastik berisi sekotak donat.
        Ardi tersenyum lega. Dia menerima tas plastik itu. “Betul, ini punya saya. Tadi saya buru-buru mengejar bis. Alhamdulillah, masih rejeki saya. Terima kasih, ya.”
       Ardi pamit dan segera keluar dari mall menghampiri bapak ojek yang masih menunggu. Mereka kembali ke terminal bis. Ardi harus menunggu satu jam lagi untuk keberangkatan berikutnya.
         Bis berangkat tepat waktu. Semakin malam, lalu lintas di sekitar terminal bis semakin padat. Ardi perlahan tertidur dalam buaian dinginnya AC di atas kepala. Empat puluh lima menit berlalu, Ardi terjaga dari tidurnya.
          “Ada apa, ya, kok bis berhenti?” Ardi bertanya kepada pemuda yang duduk di sebelahnya.
       “Bis yang sebelumnya kecelakaan, Pak. Sepertinya sopir sedang memberi bantuan.” Pemuda itu menjelaskan.
           “Kecelakaan?” Ardi bergumam. Mata Ardi menatap plastik berisi donat untuk Keiko, yang masih dia genggam erat di tangan kiri tepat di pangkuannya. Tangan kanannya bergetar mengelus plastik itu. “Alhamdulillah.” Ardi berbisik.

No comments:

Post a Comment