Poligami
adalah satu kondisi dimana seorang suami memiliki istri lebih dari satu orang.
Dalam agama Islam memang diperbolehkan namun dengan syarat tertentu. Sayangnya,
banyak suami yang kurang memperhatikan syarat tersebut. Dan tidak sedikit
mengatasnamakan sunnah Rasul sebagai alasan untuk menikah lagi dan lagi.
Ada
istri yang mampu menerima kondisi dimadu, namun tidak sedikit juga yang merasa
terzholimi dengan kondisi tersebut. Ini
wajar, siapa pun tidak ingin diduakan. Ironisnya pelaku poligami tidak sedikit
adalah mereka yang secara ekonomi tidak memadai. Hidup dengan satu orang istri
saja sudah pas-pasan bahkan sang istri wajib membantu suami mencari nafkah
sehari-hari.
Untuk
para suami, mohon kiranya dapat mempertimbangkan hal-hal berikut sebelum
memutuskan untuk poligami:
Mengikuti Sunnah Rasul
Ini
yang kerap menjadi alasan sehingga istri mau tidak mau harus menerima kenyataan
untuk bersedia diduakan. Istri manapun pasti ingin menjalankan perintah
agamanya dengan sebaik-baiknya. Namun, apakah suami sudah memenuhi segala
kewajibannya kepada agama, istri dan anak-anaknya? Dan apakah juga sunnah yang
lainnya sudah terlaksana dengan baik?
Alasan
mendasar harus poligami.
Alasan suami untuk
poligami yang paling sering adalah untuk memuaskan kebutuhan seks semata dan
rasa bangga dianggap sebagai laki-laki sejati. Yakinkan dahulu apakah kebutuhan
seks itu masih dapat ditoleransi atau tidak sehingga memerlukan perempuan lain
untuk memuaskannya.
Kondisi
keuangan.
Hitung kembali keuangan
anda. Apakah anda mampu mencukupi lebih dari satu istri dan beberapa orang anak
selama hidup anda? Apakah istri muda anda bersedia berbagi? Korban dari
poligami terbesar adalah istri tertua dan anak-anaknya. Banyak istri tertua
yang kemudian menjadi tulang punggung demi kelangsungan hidup dirinya sendiri
dan anak-anaknya.
Adil.
Adil dalam poligami
tidak hanya secara materi namun juga batin. Begitu pula dengan perhatian ke
anak-anak.
Bila
suami sakit, siapa yang akan merawat.
Istri tertua adalah istri
yang umumnya bersedia untuk merawat suami saat sakit. Alasannya karena istri
tertua adalah istri yang menemani suami sejak masa awal pernikahan yang penuh
liku. Dia mengenal dan menerima suami apa adanya dalam suka dan duka.
Bila
salah satu istri sakit, bagaimana perlakuan suami dengan
istri-istri lainnya? Akankah keadilan masih berlaku dalam kondisi seperti ini?
Warisan.
Ini bisa menjadi tragedi besar bila
suami alpa dalam mempersiapkan warisan untuk istri-istri dan anak-anaknya
kelak.
Tujuh
hal di atas mungkin adalah hal yang sepele. Namun jangan lupa, cinta para istri
dan anak-anak akan hilang bila suami tidak piawai dalam menyiasatinya.
Sri
Widi Handayani Soekarno I Inspiring
Family Coach
WA
081314507916

kereennn bun, mencerahkan :-)
ReplyDeletesalam kenal
saling mengunjungi blog yaaa
www.rahayuasdaputri.com
alhamdulillah terimakasih...ayuuukkk... :)
Delete